1. Perjuangan Diplomasi (perundingan)
a. Perjuangan diplomasi dengan Belanda
-
Belanda memasukkan Irian Barat sebagai bagaian
wilayah kerajaannya sehingga perjuangan diplomasi bilateral mengalami kegagalan.
b. Perjuangan diplomasi di forum PBB
-
Indonesia kalah suara dalam sidang umum PBB
karena jumlah negara Asia-Afrika yang menjadi angggta PBB belum sebanyak
sekarang
c. Perjuangan diplomasi di KAA
-
Melaksanakan rapat umum pembebasan Irian Barat
di Jakarta pada tanggal 18 Nov 1957.
2. Konfortasi politik
a. Pembatalan perjanjian KMB
-
Pembatalan perjanjian KMB dilakukan secara
sepihak oleh Indonesia berdasarkan UU No. 23 Tahun 1956 pada tanggal 3 Mei
1956.
b. Pembentukan provinsi Irian Barat
-
Provinsi Irian Barat dibentuk tanggal 17 Agustus
1956 oleh Kabinet Ali Sastroamidjoyo.
-
Ibu kota berada di Kota Soa Sui, Tidore, Maluku
Utara dan sebagai Gubernur adalah Zainal Abidin Syah dari Kesultanan Ternate.
c. Pemutusan hubungan diplomatik dengan Belanda
-
Terjadi pada tanggal 17 Agustus 1960 dalam pidato Presiden Soekarno yang berjudul
“Jalannya Revolusi Kita Bagaikan Malaikat Turun dari Langit.”
3. Konfrontasi Ekonomi
-
Hasil rapat umum gerakan pembebasan Irian Barat
tanggal 2 Desember 1957 rakyat dan pemerintah melaksanakan aksi konfrontasi
sebagai berikut:
i.
Mogok masal para buruh yang kerja di perusahaan
Belanda.
ii.
Melarang beredarnya segala bentuk terbitan dan
film yang berbahasa Belanda.
iii.
Pengambilalihan (nasionalisasi) perusahaan milik
Belanda di Indonesia.
iv.
Memecat warga negara Belanda yang bekerja di
pemerintahan Indonesia.
v.
Membentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat.
-
Pemerintah mengularkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 23 tahun 1957 tentang
Pengambilalihan (nasionalisasi) perusahaan milik Belanda di Indonesia.
-
Perusahaan Belanda yang akan diambilalih yaitu:
Perusahaan listrik Philips, Bank Escompto, Percetakan de Unie, Nederlandsche
Handel Maatschappij (Bank Dagang Negara), serta perusahaan perkebunan dan
pertambangan.
-
Melarang seluruh pesawat terbang KLM milik
Belanda untuk terbang dan mendarat di Indonesia.
4. Konfrontasi bersenjata (militer)
a. Tri Komando Rakyat (Trikora)
-
Latar belakang Trikora adalah Belanda mencoba
menjadikan masalah Irian Barat sebagai masalah di forum PBB sebagai koloni yang
akan dimerdekakan (dekolonisasi).
-
Presiden Soekarno mencanagkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada tanggal 19
Desember 1961 saat pidato rapat raksasa di Jogjakarta dalam rangka pembebesan
Irian Barat.
-
Isi Trikora:
i.
Gagalkan pembentukan negara boneka bentukan
Belanda
ii.
Kibarkan sang merah putih di Irian Barat Tanah
Air Indonesia
iii.
Bersiaplah untuk mobilisasi umum mempertahankan
kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air Indonesia
b. Komando Mandala
-
Komando Mandala merupakan realisasi dari Trikora
yang dibentuk oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Januari 1962 di Ujung Pandang (Makasar).
-
Tugas Komando Mandala:
i.
Merencanakan persiapan dan menyelenggarakan
operasi militer dengan tujuan mengembalikan Provinsi Irian Barat ke dalam kuasaan
NKRI.
ii.
Mengembangkan situasi militer di wilayah
Provinsi Irian Barat, yakni:
o Sesuai
dengan taraf-taraf perjuangan diplomasi.
o Dilaksanakan
sesingkat-singkatnya di wilayah Provinsi Irian Barat secara de facto dan dapat
menciptakan daerah-daerah bebas atas unsur kekuasaan pemerintahan RI.
-
Panglima Komando Mandala: Mayjend. Soeharto, wakil
panglima I: Kol. (laut) Subono, wakil panglima II: Kol. (udara) Leo Wattimena,
dan kepala staff gabungan: Kol. Achmad Tahir.
-
Tiga fase strategi operasi militer Komando
Mandala:
i.
Fase infltrasi:
memasukkan 10 kompi tentara ke Provinsi Irian Barat samapi akhir tahun 1962 dan
mengajak raktyat irian Barat untuk ikut membebaskan wilayah :
o Fak-fak
dan Kaimana dengan operasi banteng
o Sorong
dan Terminabuan dengan operasi serigala
o Marauke
dengan operasi naga
o Sorong,
Kaimana, dan Marauke dengan operasi
jatayu
ii.
Fase eksploitasi:
serangan terbuka mulai tahun 1963 terhadap pangkalan militer musuh dan semua
pos pertahanan musuh yang penting.
o
Operasi serangan terbuka tersebut dinamakan Operasi Jayawijaya dengan membentuk
Angkatan Tugas Amfibi 17 yang terdiri dari tujuh gugus tugas yang dipimpin oleh
Kol. Sudomo, sedangkan Angkatan Udara membentuk enam kesatuan tempur baru.
o
Operasi Jayawijaya belum sempat dimulai karena
padda tanggal 15 Agustus 1962 tercapai persetujuan perundingan antara RI dan
Belanda di markas Besar PBB. Sehingga pada tanggal 18 Agustus 1962 terjadi
genjatan senjata.
iii.
Fase konsolidasi:
menegakkan kekuasaan RI secara mutlak di seluruh Irian Barat mulai awal tahun
1964.
c. Peristiwa Laut Aru
-
Pada awal fase infiltrasi di Laut Aru (sebelah
barat daya Irian Barat) terjadi pertempuran antara tiga Motor Torpedo Boat
(MTB) milik Indonesia dengan kapal perusak dan fregat milik Belanda.
-
Pada tanggal 12 Januari 1962 kesatuan patroli cepat
yang dipimpin oleh Kapten Wiratno melakukan patroli rutin di Laut Arafuru yang
terdiri dari tiga buah MTB yaitu:
o
MTB Macan
Tutul yang dikomandoi oleh Kapten Wiratno dan Komodor Yosafat Sudarso (Yos
Sudarso).
o
MTB
Harimau yang dikomandoi oleh Kolonel Sudomo.
o
MTB Macan
Kumbang yang dikomandoi pejabat lainnya.
-
Pada tanggal 15 Januari 1962 rombongan patroli
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) tiba di Laut Aru, secara tiba-tiba
diserang oleh kapal perusak dan kapal fregat yang dipandu oleh pesawat terbang
Neptune dan Firefly milik Belanda.
-
MTB Macan Tutul yang dikomdaoi oleh Yos Sudarso
melakukan manufer, sehingga pihak Belanda hanya memperhatikan MTB Macan Tutul
dan KMB yang lain dapat meloloskan diri. Mendapat serangan yang bertubi-tubi
menyebabkan MTB Macan Tutul terbakar dan tenggelam sehingga menggugurkan Kapten
Wiratno, Yos Sudarso, dan beberapa awak kapal menjadi pahlawan pembebasan Irian
Barat.
