Advertise

 
Tampilkan postingan dengan label Alquran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alquran. Tampilkan semua postingan
Jumat, 26 Agustus 2016

Ada Hikmah Di Dalam Membaca Al Qur'an

0 komentar




Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barkaatuhu.
SubhanAllah duhai sahabatku yg mulia, bacalah diantara Hikmah Hikmah Membaca Al Qur’an apalagi sampai menghafalkannya :
Allah berfirman, “Hai orang-orang yg beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yg bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yg kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan” (QS At Tahrim 6).
Rasulullah bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.” (HR Muslim).
“Di hari Akhirat kelak akan didatangkan Al Qur’an dan orang yg membaca dan mengamalkannya, didahului dg surat Al Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, kedua-duanya menjadi hujjah (pembela) orang yg membaca dan mengamalkannya” (HR Muslim).
“Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yg mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).
“Orang yg membaca Al Qur’an dg terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim).
“Sesungguhnya orang yg tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yg runtuh” (HR Tirmizi).
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya” (HR Ahmad).
“Dan perumpamaan orang yg membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yg mulia dan taat” (Muttafaqun ‘alaih).
“Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yg tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an” (HR Al-Hakim).
“Ya Allah, jadikan kami, anak cucu keturunan kami, para santri kami, para yatim piatu kami dan keluarga kami sbg penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yg mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yg ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yg beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an, Allahumma aamiin”.
Diambil dari Fb K. H. Muhammad Arifin Ilham
Read more...
Senin, 08 Agustus 2016

Kisah Inspirasi: Bagaimana Cara Mahasiswa Cerdas Ini Menyadarkan Seorang Dosen Penghina Kitab Alquran?

0 komentar
Kisah ini menyadarkan seorang dosen kenapa umat islam begitu marah ketika orang menghina Al Quran. Cerita ini bagus untuk menyadarkan kita kenapa kita harus menjadikan alquran sebagai bagian dari kehormatan sebagai seorang muslim.

Dosen yang terkenal liberal itu mulai berceramah. Namun, ia tidak langsung masuk ke mata kuliahnya. Ia justru berbicara tentang fenomena umat Islam yang menurutnya pemarah. Ada yang memprotes adzan, marah. Ada yang membakar Al Quran, marah.

Padahal, menurutnya, yang dibakar itu hanya kertas. Sedangkan Al Quran yang sebenarnya ada di lauhul lahfudz. Tak bisa dibakar, tak bisa dilecehkan.

“Saya benar-benar heran dengan umat Islam. Terlalu lebay, menurut saya. Hanya karena ada yang menginjak mushaf Al Quran, mereka marah lalu ribuan orang menggelar demonstrasi di mana-mana. Padahal yang dibakar itu cuma kertas. Hanya media tempat menulis Al Quran. Al Quran aslinya ada di lauhul mahfuzh,” kata dosen itu. “Saya pikir para mahasiswa harus dicerdaskan soal ini.”

Ruang kuliah itu hening beberapa saat. Sebagian mahasiswa agaknya setuju dengan pemikiran sang dosen. Hingga kemudian, seorang mahasiswa yang dikenal cerdas mengacungkan tangan.

“Memang Al Quran itu, hakikatnya ada di lauhul mahfuzh,” katanya sambil berjalan mendekati dosen.

“Maaf, Pak. Boleh saya melihat makalah Bapak?” Wajah mahasiswa lainnya menegang. Mereka khawatir akan ada insiden yang tidak terduga antara mahasiswa yang dikenal sebagai aktifis dakwah itu dengan dosennya yang liberal.

“Makalah ini bagus Pak,” Wajah-wajah yang tadinya sempat tegang kini normal kembali. Namun itu hanya sesaat, karena setelah itu, mahasiwa tersebut melempar makalah ke lantai kemudian menginjaknya. “Sayang sekali analisanya kurang komprehensif”

Tak cukup menginjak. Ia ludahi makalah itu kemudian ia injak-injak lagi. Praktis makalah tersebut menjadi kotor dan rusak.

Di dekatnya, sang dosen melotot. Mukanya merah padam. Kedua telapak tangannya menggenggam erat.

“Kurang ajar! Kamu menghina karya ilmiah saya. Kamu menghina pemikiran saya,” kata sang dosen sembari melayangkan tangannya ke arah mahasiswa. Namun, dengan cekatan mahasiswa itu menangkisnya.

“Marah ya Pak? Saya hanya menginjak kertas. Saya hanya meludahi kertas. Saya hanya melecehkan kertas. Saya tidak melecehkan pemikiran Bapak karena pemikiran Bapak ada di kepala Bapak. Saya kan tidak menginjak kepala Bapak. Saya pikir Bapak harus dicerdaskan soal ini.”

Mendengar itu, sang dosen tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia seperti mendapatkan serangan balik yang mematikan. Segera, buku-bukunya dikemasi dan ia meninggalkan ruang kuliah itu dengan muka merah padam. 
Read more...

Berita Terbaru

 

Copyright © Monitor Jurnal