Advertise

 
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Agustus 2016

Tewasnya Sang Nabi Palsu, Musailamah Al Kadzdzab Di Perang Yamamah

0 komentar




Perang Yamamah merupakan perang yang menitik beratkan kepada terbunuhnya Musailamah Al Kadzdzab. Tahukah kamu siapakah orang laknatullah ini?
Dalam kitab Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 100. Musailamah Al Kadzdzab adalah orang yang hidup pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberikan usia yang panjang yaitu sampai 150 tahun.
Dikisahkan dalam buku tersebut bahwa Musailamah Al Kadzdzab adalah seorang pendusta yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi pada masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah alasan kenapa dia dijuluki Al Kadzadzab (pendusta).
Perang Yamamah terjadi dalam beberapa hari. Pada saat itu kaum muslim dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu berhasil memukul mundur pasukan kafir yang berjumlah antara 40-60 orang. Namun perang ini terus saja berlanjut di keesokan paginya.
Pada keesokan harinya kaum kafir dibawah komando Musailamah Al Kadzdzab berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak 100.000 yang posisi mereka berada diatas angin sehingga berhasil menekan pasukan kaum muslimin yang hanya 12.000 orang saja.
Namun tidak sampai disitu saja, kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid berhasil mengobarkan api semangat jihad dan terus menyerang pasukan kaum kuffar.
Pada situasi yang sangat genting Tsabit bin Qais memotivasi dirinya dan kaum muslimin dengan mengatakan,
“Alangkah buruknya yang kalian biasakan (perbuat) ini wahai kaum muslimin. Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang mereka orang-orang Yamamah perbuat. Dan aku mohon maaf Mu atas apa yang diperbuat kaum muslimin”.
Kemudian ia berperang hingga menemui ajalnya.
Perjuangan kaum muslimin tidak sampai disitu saja, meskipun kaum kuffar tersebut berhasil memojokkan pasukan yang dibawah kendali Khalid bin Walid. Api semangat jihad terus bergelora di hati para kaum muslimin.
Hingga tibalah seorang budak hitam dari kalangan Anshar bernama Wahsyi bin Harb berhasil membunuh  Musailamah Al Kadzdzab si Nabi palsu.
Tewasnya Musailamah meruntuhkan moral pengikutnya. Kebanggaan dan kesombongan mereka serta merta luruh, larut dalam situasi itu. Mereka seolah-olah tersadar dari sihir, bingung tak berbuat sesuatu pun.
Akhirnya mereka menyerah. Setelah sejumlah 21.000 dari mereka tewas dalam pertempuran. Dan ada yang mengatakan 500 atau 600 atau bahkan 1200 kaum muslimin syahid. Jumlah korban yang besar.
Demikianlah kisah perang yang terjadi di Yamamah. Adapun pesan yang diambil dari kisah ini adalah tak seorangpun yang dapat menggantikan posisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah dia wafat.
Karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang terakhir dan tidak ada nabi setelah beliau wafat.
Sehingga dengan begitu ketika terdengar oleh sahabat tentang orang yang mengaku Nabi maka tiada cara selain membunuhnya, memeranginya atau dia kembali kepada ajaran islam.
(satujam.com)
Read more...
Senin, 29 Agustus 2016

Islam Adalah Agama Saya,Leslie Pridgen

0 komentar





Islam adalah agama Rahmatan lil'alamin..yang artinya agama untuk semua umat yang ter-rahmati,,,dan hidayah itu datang dengan tak terduga dan semua orang pasti menginginkan akan Hidayah.“Agama saya adalah segalanya buat saya. Agama yang membuat saya selalu bergerak setiap hari,” kata Freeway, penyanyi rap terkenal di AS, berkomentar tentang agama Islam yang dipeluknya dari usia remaja hingga sekarang.
“Islam adalah hati saya, Islam adalah jiwa saya,” kata lelaki yang sekarang sudah memiliki dua putra itu dalam wawancara dengan CNN.
Freeway yang bernama asli Leslie Pridgen mengucapkan dua kalimat syahadat saat usianya masih 14 tahun. Sejak menjadi seorang muslim, sifatnya yang temperamental layaknya seorang anak ABG (Anak Baru Gede) banyak berubah dan mengantarnya menjadi seorang bintang penyanyi rap seperti sekarang ini.

Freeway menyatakan sangat bangga menjadi seorang muslim. Baginya, Islam sudah menjadi bagian hidupnya. Meski ia mengakui, keimanannya berubah-ubah ketika ia dewasa dan menjadi seorang artis. Ia harus menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai seorang muslim dan kredibilitasnya sebagai seorang artis hip-hop,
Setiap hari Jumat, Freeway bergegas ke masjid Al-Aqsa Islamic Society di North Philadelphia untuk menunaikan salat Jumat. Ia juga sangat selektif memilih kata-kata untuk syair lagunya dan selalu menanamkan dalam pikirannya bahwa para penggemarnya bisa mengambil manfaat dari lagu-lagunya.

“Para penggemar saya bisa mendapatkan lebih dari sekedar musik, karena saya menyampaikan banyak pesan. Sekarang saya makin peduli dengan apa yang saya katakan, karena dalam Islam, kami meyakini bahwa kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan,” kata Freeway.

Pengalaman hidup telah membentuk Freeway menjadi seorang lelaki dewasa yang matang, seorang ayah, seorang artis dan seorang muslim. Ia pernah kehilangan seorang sepupu dan seorang sahabat dekat dalam sebuah peristiwa kekerasan bersenjata. Sejak itu pendekatannya berubah dan membuatnya menjadi lebih dewasa.
“Saya tentu saja tidak berada dalam situasi yang sama ketika saya pertama kali memulainya, ketika saya masih berkeliaran di jalan, luntang lantung melakukan hal-hal yang gila. Setiap hari adalah kerja, setiap hari adalah godaan,” tukasnya.

Meski sudah menjadi seorang artis rap terkenal, Freeway tetap menempatkan agamanya di atas segalanya. Dan ia bukan satu-satunya artis rap muslim di Philadephia yang bersikap demikian.
“Ada Lupe Fiasco, Q-Tip, Mos Def–mereka semua secara terbuka mengakui sebagai muslim,” kata Amir Abbasy, manager Freeway.
Sebagai seorang publik figur, Freeway tidak segan-segan untuk berbagi pengalam hidupnya dengan orang lain. Ia misalnya, menjadi pembicara dalam sebuah workshop tentang bullying di sekolah Philadelphia pada hari yang sama ketika Kongres AS menggelar dengar pendapat tentang radikalisasi Muslim Amerika yang digagas oleh Senator Peter King, ketua Komite Keamanan Dalam Negeri di Senat AS.

Freeway menilai dengar pendapat itu sudah dengan tidak adil menyoroti Muslim di Amerika. “Itu sebuah kebodohan, sebuah omong kosong. Anda tidak bisa menilai seluruh masyarakat hanya dari segelintir orang yang melakukan kesalahan,” tandas Freeway yang selalu menjaga salat lima waktunya.

Managernya, Amir Abbasy mengakui kesungguhan Freeway untuk menjadi seorang muslim yang taat. “Suatu saat, ketika ia memutuskan untuk berhenti menyanyi, agamanya tetap bersamanya. Agamanya, itulah hidupnya. Ia akan bangun tanpa mikrofon di tangannya, tapi ia akan bangun untuk salat,” tukas Abbasy.(kisahmualaf.com)

Read more...
Minggu, 28 Agustus 2016

Pesantren Tebuireng Mempunyai Andil Besar Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI....

0 komentar





Tak bisa dipungkiri peranan pondok pesantren dari masa ke masa sangatlah besar jasanya terutama, sejak zaman penjajahan hingga kini, pondok pesantren (ponpes) banyak memberikan sumbangsih bagi kemerdekaan Indonesia. Wajar bila pesantren disebut sebagai benteng pertahanan terakhir kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagaimana tidak, jauh sebelum kemerdekaan, gemuruh semangat kemerdekaan telah dikobarkan di kalangan pesantren.
Dari sekian banyak, salah satu pesantren yang memiliki sumbangsih terbesar bagi bangsa yakni Ponpes Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Ponpes Tebuireng berdiri jauh sebelum era kemerdekaan, tahun 1899 silam. Kala itu, KH Hasyim Asyari yang merasa miris melihat kondisi Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang yang terkenal sebagai sarang perjudian, perampokan serta pelacuran.

Secara bertahap, KH Hasyim Asyari kemudian mampu melakukan dakwahnya dan menyebarkan agama Islam. Bahkan ketika perang mempertahankan kemerdekaan, Ponpes Tebuireng menjadi salah satu benteng pertahanan bagi para pejuang. Ketika, tentara sekutu ingin menguasai Kota Surabaya, kiai yang berjuluk hadratus syaikh ini bersama dengan kiai lainnya mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda pada 22 oktober 1945.
"Ketika itu kondisi bangsa Indonesia memang dalam keadaan genting. Karena itulah kemudian, Mbah Hasyim bersama dengan kiai lainnya berkumpul di Surabaya, dan merumuskan Resolusi Jihad itu. Di mana pada intinya, santri, umat Muslim wajib hukumnya membantu tentara Indonesia melawan sekutu. Karena semangat ke-Indonesaiaan saat itu belum begitu kuat, sehingga fatwa perang jihad itu yang dikumandangkan," ungkap KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (25/8/2016).
KH Hasyim Asyari, merupakan kiai karismatik yang mumpuni dalam ilmu agama. Khususnya tafsir, hadits dan fiqih. Tak heran jika sejak didirikan, ponpes Tebuireng menjadi panutan bagi pesantren lain di Nusantara. Wajar jika dari pesantren ini, banyak tokoh besar lahir. Seperti KH Wahid Hasyim, hingga mantan presiden RI ke-IV, yakni KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan tokoh lainnya.
"Kalau dulu memang iya. Saat dipimpin oleh Mbah Hasyim, memang Tebuireng salah satu pesantren yang menjadi panutan. Namun saat ini banyak pesantren-pesantren lain yang juga sudah bisa dijadikan panutan. Itu sebuah kebanggaan dan kekayaan bangsa sebenarnya," papar kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini.
Kini, diusianya yang sudah menginjak lebih dari satu abad, tepatnya 117 tahun, Ponpes Tebuireng telah menjelma menjadi pesantren yang lebih moderat. Meskipun masih mengedepankan pendidikan salafi, Tebuireng kini menjadi simbol dari pendidikan agama islam di Indonesia. Sistem pendidikan salafi yang selama ini dipegang, kini diimbangi dengan pendidikan umum, baik sains dan pengetahuan lain.
"Ada 800 ayat-ayat yang membahas alam semesata dan itu perlu diketahui oleh para santri. Mereka harus diajari untuk berfikir kritis, dan juga dasar-dasar ilmu filsafat serta hal-hal lain untuk mengembangkan diri. Karena ulama Islam tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga ilmu menguasai ilmu non agama, misalnya matematika, fisika, optik, kedokteran, dan lainnya," tutur cucu KH Hasyim Asyari ini.
Saat ini, sebanyak 4.000 lebih santri yang menimba ilmu di ponpes Tebuireng Jombang. Dan sudah tak terhitung lagi berapa ribu jumlah alumni santri Ponpes Tebuireng yang kini telah membaur menjadi penggerak di masyarakat. Hingga kini, ide perjuangan KH Hasyim Asyari itulah yang kini terus ditanamkan di dalam diri santri. Dengan menggunakan kitab karya-karya KH Hasyim Asyari sebagai pedoman.
"Impian kami, kami ingin kembali ke abad-abad lama dulu, ketika ilmu agama dan ilmu non agama itu tidak dipertentangkan, tapi saling memperkuat. Menurut saya, pesantren ini perlu mendirikan universitas dan pemerintah wajib untuk membantu pesantren untuk mendirikan perguruan tinggi. Karena sumbangsih pesantren sangat tinggi kepada negara ini," terang Gus Sholah. (news.okezone.com)


Read more...
Jumat, 26 Agustus 2016

Ada Hikmah Di Dalam Membaca Al Qur'an

0 komentar




Assalaamu alaikum wa rahmatullahi wa barkaatuhu.
SubhanAllah duhai sahabatku yg mulia, bacalah diantara Hikmah Hikmah Membaca Al Qur’an apalagi sampai menghafalkannya :
Allah berfirman, “Hai orang-orang yg beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yg bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yg kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yg diperintahkan” (QS At Tahrim 6).
Rasulullah bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.” (HR Muslim).
“Di hari Akhirat kelak akan didatangkan Al Qur’an dan orang yg membaca dan mengamalkannya, didahului dg surat Al Baqarah dan Surah Ali ‘Imran, kedua-duanya menjadi hujjah (pembela) orang yg membaca dan mengamalkannya” (HR Muslim).
“Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yg mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).
“Orang yg membaca Al Qur’an dg terbata-bata karena susah, akan mendapat dua pahala.” (Riwayat Bukhari & Muslim).
“Sesungguhnya orang yg tidak ada dalam dirinya sesuatu pun dari Al Qur’an laksana sebuah rumah yg runtuh” (HR Tirmizi).
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya” (HR Ahmad).
“Dan perumpamaan orang yg membaca Al Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yg mulia dan taat” (Muttafaqun ‘alaih).
“Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yg tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an” (HR Al-Hakim).
“Ya Allah, jadikan kami, anak cucu keturunan kami, para santri kami, para yatim piatu kami dan keluarga kami sbg penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yg mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yg ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yg beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an, Allahumma aamiin”.
Diambil dari Fb K. H. Muhammad Arifin Ilham
Read more...
Selasa, 09 Agustus 2016

Riwayat Ka'Bah Dari Masa Ke Masa

0 komentar


Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.

Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.

Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah.
Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.
Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.

Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad.

Selesai dibangun,  Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.
Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah.

Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.

Banjir Ka’bah
Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka’bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka’bah.

Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah.

Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.

Banjir sering terjadi di Mekkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Mekkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.

Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Haram. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke 20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka’bah.

Serangan Gajah
Serangan terhadap Ka’bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah dan menghancurkan Ka’bah.

Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrahah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka’bah di Mekkah ke gerejanya di Yaman.

Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.

Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, Abdul Mutalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka’bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrahah menuju Ka’bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.

Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrahah tewas akibat bisul yang sangat panas.

Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrahah ke Mekkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al Fiil di kitab suci Al-Quran. “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al Fiil: 3-4).

Bentrok dengan Iran
Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jemaah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.

Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42  jemaah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jemaah haji Iran.

Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hejaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.

Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syiah.  Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.

Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jemaah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Haram di Mekkah.
Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.

Sejak saat itu, demonstrasi jemaah haji Iran terus dilakukan di Mekkah. Ini berkat imbauan Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jemaah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jemaah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama “Menjaga Jarak dengan Para Musryikin.”

Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.

Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jemaah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jemaah haji asal Iran untuk menghindari konflik.

Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jemaah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Mekkah. Ketika sampai di depan Masjidil Haram, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.
Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.

Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jemaah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jemaah haji Iran.

Mahdi Palsu
Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jemaah haji di dalamnya.

Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat Akhir Zamann.

Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Haram. Mereka memerintahkan para jemaah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qahtani. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.

Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Mekkah dievakuasi ke beberapa daerah.

Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang telah  melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Haram. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka’bah.

Dilaporkan 255 jemaat haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.

Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan dan Perancis.

Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Haram dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.

Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Haram. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Haram hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allahu a’lam. (berbagai sumber/al-ikhwan17)
Read more...

Preman Dapat Hidayah Karena Traktiran

0 komentar



Dua muslimah dan satu anaknya ini tengah makan siang di sebuah restoran di Jerman. Satu muslimah asal Indonesia, sedangkan yang lainnya adalah muslimah Turki yang menyertakan anaknya.
Keduanya menikmati sajian roti di restauran itu sembari berdiskusi kecil tentang Islam dan aneka kisah kehidupan keduanya.
Berselang lama, datanglah dua orang laki-laki dewasa khas berandalan Eropa. Rambut awut-awutan, logat bahasa kasar dan sorot mata yang bengis. Kedua laki-laki itu, duduk di jarak lima meter dari tempat muslimah yang sedari tadi asik dengan makanan dan obrolan ringannya.
Mulanya, kedua muslimah itu tak hiraukan kedua preman tersebut. Lagipula, keduanya memang tak miliki urusan apa pun. Namun, sebuah dialog antara kedua preman itu memancing emosi salah satu muslimah nan baik hati ini.
Terdengar jelas, salah satu diantara mereka berkata, “Kau tahu mengapa bentuk roti di negeri kita mirip dengan lambang salah satu negara Islam itu?”
Yang ditanya menggeleng, tanpa kalimat. Ia yang bertanya pun menjawabnya sendiri, menerangkan, “Karena kita membenci negara itu. Jadi, ketika kau melahapnya, bayangkanlah bahwa kau juga melahap negeri itu,” ungkapnya diiriingi tawa melecehkan.
Merasa dihina, muslimah asal Indonesia langsung mengambil posisi berdiri, hendak membalas hinaan manusia tak beradab itu. Namun, oleh saudari muslimah asal Turki itu, ia dicegah. Dengan lembut, ia menerangkan, “Aku punya cara yang lebih baik untuk membalas hinaan itu.”
Tak lama kemudian, kedua muslimah itu selesai makan. Ketika mendatangi kasir untuk membayar tagihan, muslimah Turki itu berkata kepada petugas yang melayaninya, “Tolong sekalian dihitung jumlah tagihan dua orang di sebelah sana,” pintanya sembari menunjuk ke arah dua preman itu.
Melihat keanehan ini, sobatnya asal Indonesia bertanya keheranan. Namun, ia yang ditanya hanya menjawab santai, “kelak, kau akan tahu tujuanku.” Keduanya pun berlalu setelah menitipkan secarik kertas kepada kasir untuk disampaikan kepada kedua preman yang ditraktirnya itu.
Setelah selesai dengan makan dan obrolannya, kedua preman itu pun beranjak menuju kasir. Sesampainya di sana, air mukanya nampak kebingungan sebab tagihannya sudah dilunasi oleh seeorang yang sama sekali tak dikenalnya.
Sebelum keduanya beranjak, kasir menyampaikan titipan kertas untuk mereka. Di dalam kertas itu tertulis nama, agama dan alamat email serta ucapan selamat makan.
Dengan terbelalak, timbullah rasa malu di wajah kedua preman itu. Pasalnya, baru saja mereka menghina negara Islam tempat muslimah baik hati itu berasal.
Berselang bulan, terdapatlah pesan di akun email sang muslimah. Tertulis di sana, “Terimakasih. Maafkan atas kelancanganku. Kini, karena hidayah Allah melalui kebaikanmu, aku telah menjadi muslim.”
Subhanallahi walhamdulillahi Allahu Akbar.
(kisahhikmah.com)
Read more...

Ada Ditengah-Tengah Kita Tanpa Disadari,Tanda Kiamat Sudah Terjadi.

0 komentar



Jika melihat fenomena zaman, tanda-tanda Hari Kiamat itu sudah nyata. Kerusakan sudah merajalela. Kebaikan terlihat dan dipromosikan sebagai keburukan. Sedangkan keburukan memiliki banyak pendukung lantaran dibungkus dengan amat rapi hingga terlihat sebagai kebaikan.
Zina semakin merajalela. Seorang ayah tega menzinai anak atau saudara kandungnya. Seorang menantu tidak segan menzinai mertuanya. Seorang anak tega melampiaskan syahwat kepada ayah atau ibu kandungnya. Dan ragam zina lainnya.
Banyak kasus pula, seseorang dizinai banyak orang. Ramai-ramai. Bergantian. Setelah usai, farji wanita tanpa dosa itu rusak, lalu tembus ke duburnya. Kemudian sang korban dibuang. Tanpa ampun. Tanpa sedikit pun belas kasih. Sungguh, ini bukan fiksi. Bukan kisah atau cerita. Ini fakta dan terjadi di negeri ini. Negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Para pezina juga tak malu melakukan perbuatan tercelanya di tempat umum. Lihat saja di malam minggu. Berapa pasang muda-mudi yang berboncengan layaknya suami-istri, lalu melakukan tindakan yang benar-benar terlarang oleh nilai agama, bahkan moral ketimuran yang selama ini dijunjung dan dipuja-puji.
Selain maraknya fenomena keburukan tersebut, ada satu tanda dekatnya Hari Kiamat yang jarang bahkan tidak disadari oleh kebanyakan kita. Padahal, semua kita mengalaminya. Hampir setiap hari. Kita benar-benar menjalaninya dalam keadaan bernyawa. Tapi kita luput memahami bahwa fenomena itu merupakan tanda dekatnya Hari Kiamat.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahumallahu Ta’ala dari sahabat mulia Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan datang hingga waktu terasa berjalan  dengan cepat. Satu tahun terasa satu bulan. Satu bulan terasa satu pekan. Satu pekan terasa satu hari. Satu hari terasa satu jam. Satu jam terasa bagai sepercikan api (yang menyala, kemudian padam.”
Bukankah kita merasakannya saat ini? Waktu berjalan sangat cepat hingga kita tidak menyadarinya. Ingat-ingatlah, rasanya Ramadhan baru berlalu kemarin, tapi dalam hitungan puluhan hari ke depan, kita akan kembali menjumpainya, jika Allah Ta’ala Menghendaki.
Dan bisa
jadi, hari ini kita bergumam, “Sudah sore aja. Padahal, pagi baru saja beranjak.”
Semoga kita sadar dan bergegas mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang abadi di akhirat. Aamiin.
Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah](kisahhikmah.com)
Read more...

Kaum Quraisy Dan Yahudi Bertanya Tentang Riwayat Dzulqarnain.

0 komentar



Kisah tersebut menjadi refleksi betapa Dzulqarnain adalah seorang Mukmin yang bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Sifat-sifat tersebut membuatnya mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sebab, sosoknya adalah sahabat bagi para budiman dan pembuat kebajikan, namun musuh bagi para perusak dan budak kejahatan.

Kebesaran Dzulqarnain tersebut juga telah dikenal sebagian kalangan sebelum Alquran diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, kaum Quraisy atau Yahudi pernah menanyakan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. 

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman, "Mereka menanyakan kepadamu tentang Dzulqarnain." (QS al-Kahfi [18]: 83). Kendati sifat-sifatnya diuraikan, namun Alquran memang tidak menyebutkan atau menjelaskan secara terperinci perihal siapa sebenarnya Dzulqarnain atau ke mana saja dia menjelajah.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, kisah Dzulqarnain melukiskan tentang contoh seorang raja saleh yang diberi kekuasaan di bumi, meliputi belahan timur dan barat, oleh Allah SWT. Segenap manusia dan penguasa negara tunduk pada kekuasaannya. Kendati demikian, Dzulqarnain tetap istikamah sebagai seorang yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

Hal ini tergambar ketika dia membangun benteng untuk kaum dhaif yang ketakutan kepada bangsa Ya'juj dan Ma'juj. "Dzulqarnain berkata, ini (benteng) adalah suatu rahmat dari Tuhanku. Maka, apabila sudah tiba janji Tuhanku, Dia pun akan menjadikannya rata dengan bumi (hancur lebur). Dan janji Tuhanku itu adalah benar." (QS al-Kahfi: 98)

Yusuf Qardhawi menilai, terdapat tujuan tersendiri mengapa Allah SWT meriwayatkan kisah Dzulqarnain dalam Alquran. Salah satunya adalah sebagai contoh dan pelajaran kepada seluruh manusia di bumi. Yakni agar mereka tidak congkak dan angkuh ketika memiliki kekuasaan yang besar di tangannya.

Terlebih lagi, dengan kekusaannya tersebut, ia menyepelekan dan mendustakan Allah SWT. Kisah seperti Dzulqarnain telah difirmankan oleh Allah SWT, "Sesungguhnya kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS Yusuf: 111).(republika.co.id)
Read more...
Senin, 08 Agustus 2016

Janji Jokowi: Nasib Masjid Amir Hamzah TIM Yang Digusur Jokowi HIngga Kini Tidak Diganti

0 komentar

Sewaktu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Joko Widdodo (Jokowi) membuat kebijakan kontroversi dengan merobohkan masjid Amir Hamzah di lokasi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Saat itu Jokowi berjanji akan membangun kembali masjid itu dengan lebih besar. Namun dalam kenyatannya, sampai sekarang di kompleks TIM itu tidak ada pembangunan masjid seperti yang dijanjikan Jokowi. Lokasi Masjid Amir Hamzah pun kini diubah. Hanya  diletakkan di basement parkir yang sangat sempit dan pengap.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi mengingatkan, tindakan Jokowi yang tidak membangun kembali Masjid Amir Hamzah akan mendatangnkan efek negatif bagi Jokowi.

“Dulu Foke habis saat mau bongkar makam Mbah Priok, Jokowi bongkar Masjid Amir Hamzah nasibnya bisa seperi Foke. Ini bukan masalah ilmiah tetapi fakta adanya,” ungkap Ridwan.

Beberapa pengunjung TIM pun sangat kecewa karena Masjid Amir Hamzah tidak dibangun kembali.

“Masjid hanya di basement dan sempit, harusnya dibangun dengan lebih besar sesuai janji Pak Jokowi,” ungkap Ahmad Budiarto (23) Jumat, 6 Agustus 2016.

Sinta (20) wanita berjilbab ini berharap Masjid Amir Hamzah dibangun kembali.

“Kalau ada masjidnya kaan lebih enak kalau salat. Sekarang ini masjidnya di basement dan sempit lagi,” ungkap mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Berdasarkan pengakuan Sekretaris Pengurus Masjid Amir Hamzah TIM, Arief Wibowo pada 21 Oktober 2013, pembongkaran dan pemindahan masjid yang baru ini akan berlangsung selama dua tahun ke depan.

“Menurut rencana kerja, pembangunan masjid yang baru akan berlangsung dua tahun sejak akhir tahun ini. Supaya jamaah tidak terlantar, masjid sementara kami pindahkan ke basement Teater Jakarta,” kata Arief

Kini telah hampur 3 tahun dari pernyataan tersebut,  tidak ada tanda-tanda pembangunan Masjid Amir Hamzah di lingkungan TIM.

Masjid Amir Hamzah yang dibangun sejak era Gubernur Ali Sadikin ini telah dinobatkan sebagai cagar budaya dan telah banyak melahirkan seniman besar seperti Chaerul Umam, WS Rendra, dan Didi Petet. Namun, masjid bersejarah tersebut akhirnya dibongkar tahun 2013‎.

Dahulu, Masjid Amir Hamzah adalah tempat ibadah yang layak. Namun kini, para seniman, mahasiswa dan pengunjung harus salat di basement. (portalpiyungan.com)
Read more...

Amarah Wasekjen MUI Terhadap Kedzoliman Minoritas Di Kerusuhan Tanjungbalai Meledak!

0 komentar
Kerusuhan berbasis konflik SARA kembali terjadi di Tanah Air. Setahun lalu konflik serupa terjadi di Tolikara, belahan timur Indonesia. Kali ini, konflik menjalar ke barat Indonesia, tepatnya Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Kali ini, Kiblat.net mewawancarai Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat untuk mengetahui lebih jauh kerusuhan di Tanjungbalai yang terjadi pada Jumat, 29 Mei 2016 lalu. Berikut wawancara Kiblat.net bersama Tengku Zulkarnaen pada Selasa siang, (02/08).

Kiblat.net: Bagaimana Kyai melihat kasus kerusuhan Tanjungbalai ini?

Saya mendengar laporan bahwa yang ditangkap itu orang-orang Islam semua. Kita tidak keberatan kalau anarkis ya ditangkap. Tapi kok pemicunya itu, Meliana itu kok cuma sebagai saksi?

Dia kan melakukan pelecehan agama, maki-maki agama orang. Kalau pemerintah tidak jeli, orang Islam diinjak terus bertambah parah Indonesia ini nantinya.

Masalah Tanjungbalai ini sebenarnya hanya pemicu saja, puncak gunung es. Yang jelas orang Islam di mana-mana selalu mengalami tiga kondisi. Pertama kezaliman, kedua ketertindasan, ketiga ketidak berdayaan. Ini yang sebetulnya harus diselesaikan oleh pemerintah. Sehingga kalau dibakar nantinya tidak terbakar. Kalau yang tiga ini tetap ada di mana-mana nantinya akan mudah terjadi (konflik, red). Sebab di mana-mana sudah tidak tahan.

Dulu etnis Cina ini hanya menguasai ekonomi di zaman orde baru. Sekarang ekonomi sudah mereka kuasai 98 persen. kita beli apa-apa Cina punya. Bikin roti tepungnya Cina, buat ban pabriknya Cina punya. Mau buat rumah pelacuran germo-germonya dia semua. Itu baru ekonomi. Sekarang tanah 70 persen milik Cina. Konglemerat-kongelomerat yang punya kebun sawit, Cina punya jutaan hektar.

Sekarang merambah ke politik, DPR mereka sudah. setelah partai politik dan DPR mereka kuasai, sekarang bupati gubernur mereka rebut, sudah mau nyalon presiden pula Cina.
Jadi rakyat-rakyat ini merasa kita terzalimi, tertindas dan sudah tidak berdaya. begitu datang pemicu, ya meledak lah. Seluruh Indonesia begitu akan terjadi. Kalau yang tiga ini tidak diselesaikan oleh negara.

Kiblat.net: Jadi ini persoalan konflik SARA?

Saya kan ibu saya orang Cina, kakek nenek saya orang Cina. Saya tidak rasis, saya berfikir rasional saja. Jangan sampai rakyat ini sudah merasa terzalimi dia membabi buta. Itu saja saya ingatkan.
Sekarang mau apa kita, mau sekolah cina semua, rumah sakit cina semua, mau kerja masuk bank cina semua?

Di Tanjungbalai itu Cina cuma satu sampai dua persen. Sisanya orang Islam 98 persen. Mereka buat patung budda tiga meter besarnya. Oh, ini hak demokrasi. Iya, tapi kan nggak pantas. Selain hak dipikir juga lah, pakai akal waras.

Akal itu dipakai jangan asal mentang-mentang, asal berhak, nanti orang tidak tahan. Di Bali, kita tahu sejak zaman dulu gubernurnya selalu orang Bali. Kita tidak pernah protes, tidak pernah keberatan, karena memang wajar merek gitu kok adatnya, agamanya. Tapi di Betawi bagaimana, gubernurnya sekarang cina.

Kiblat.net: Bagaimana dengan toleransi, umat Islam yang mayoritas di negeri ini selalu diminta untuk bertolelansi sementara umat minoritas sering kebablasan?

Sekarang kita ini mana orang minoritas yang ditindas? Cina itu tiap rumahnya ada hio, bakar dupa tiap hari. Itu kan baunya asap nyebar ke samping. Tidak pernah kita protes itu. Ibu saya kan orang cina, kampungnya Tiong, Bagansiapiapi. Setiap rumah Cina bakar hio, asapnya itu ke kanan kiri orang Islam tidak ada yang protes. Kita ngerti kok, lakum dinukum waliyadin.(Bagimu agamamu bagiku agamaku, red.)
Itu gereja setiap jam enam pagi jam enam sore bunyi itu (lonceng, red), kita tidak pernah ribut. Itu hak mereka yang wajib kita lindungi. Tidak ada orang Islam protes.

Kok tiba-tiba ada orang Cina datang ke masjid maki-maki orang azan, ya terbakar orang. Kalau saya tidak mungkin silap, saya orang sekolahan. Rakyat yang sudah terzalimi, tertindas dan sudah tidak berdaya tidak punya jalan lain.

Mereka ini marah bukan hanya karena masjid dimaki-maki. Itu hanya pemicu. Mereka memang sudah marah betul, dendam. Mau cari makan susah, mau sekolah tidak bisa, sakit mau berobat tidak ada. Itu yang masalah.

Orang-orang Tanjungbalai itu pencari ikan, pencari kerang. Seluruh kapalnya Cina punya. Dia cuma jadi kuli. Kalau kerja dapat duit, kalau tidak kerja tidak dapat duit.
Jadi Presiden Jokowi tidak usah mendesak-desak rakyat mengatakan, jangan dibesar-besarkan. Ini sudah kejadian seluruh rakyat Indonesia. Saya sudah keliling Indonesia, di mana-mana orang tambah melarat. Bukan tambah baik kehidupan.

Kiblat.net: Jadi menurut Kyai bagaimana penyelesaiannya?

Ya tiga itu tadi. Ketidakadilan, ketertindasan, dan ketidakberdayaan itu harus diselesaikan. Selama itu tidak diselesaikan pemerintah, percayalah negeri ini akan hancur binasa.
Kerusuhan di Tanjungbalai menyebabkan 8 kelenteng dan 2 vihara terbakar.

Kiblat.net: Pascakerusuhan di Tanjungbalai, pengeras suara masjid jadi sorotan dan diwacanakan akan diatur oleh pemerintah, bagaimana menurut Kyai?

Itu menambah rakyat jengkel saja. Gereja tidak diatur bunyi loncengnya. kenapa kita tidak ribut? Iini gara-gara Cina satu saja ribut, diatur seluruh indonesia.

Dulu Sudarmono pernah mencoba itu, di zaman orde baru mau mencoba. Tapi tidak bisa.
Coba kita lihat, di Jakarta, Ahok melarang potong korban di masjid-masjid. Penjajah kafir Belanda kita lawan, Jepang kita lawan, apalagi Cina-cina yang cuma satu dua persen ini. Nanti tidak tahan mereka kalau rakyat sudah lepas kontrol.

Kalau masjid dilarang, saya tambah keras. Pasti melawan. Azan kok dilarang. Kalau ngaji pakai kaset dilarang saya setuju. Tapi kalau azan dilarang kita lebih baik bacok-bacokan saja, perang. Saya mimpin perangnya, kalau dilarang azan pakai pengeras suara itu.

Sedangkan azan di Eropa saja yang selama ini dilarang sudah diizinkan. Di Swedia, di Inggris sudah diizinkan pakai pengeras suara, mereka tahu azan itu bagus. Cuma sebentar, tiga-dua menit.

Jadi tidak menyelesaikan masalah. Salah langkah presiden dan anggota DPR kita kalau yang mau diatur itu adalah azannnya. Yang harus diatur itu tiga itu, jangan serakah. Bagikan keadilan kepada rakyat.

Kita ini sudah kayak dijajah Cina, tanah dia punya, duit dia punya. Sekarang kebijakan shalat pun mau diatur juga. Wah bahaya ini. Jangan main-main api lah. Jangan mengalihkan masalah, masalahnya itu adalah keserakahan etnis Cina. Dulu cuma menguasai ekonomi, sekarang mau menguasai DPR, Gubernur. Semua mau mereka kuasai sampai orang Islam mau azan pun diatur.

Percayalah! Laranglah azan tidak boleh pakai pengeras suara. Tidak akan ditaati.

Kiblat.net: Lalu bagaimana dengan langkah penegakan hukum terkait pelaku kerusuhan di Tanjungbalai?

Meliana itu harus ditangkap sebagai tersangka penghinaan agama. Kalau tidak, maka tidak akan bisa meredam. Semakin dendam malah iya. Nanti ditekan di Tanjungbalai, meledak di tempat lain. Saya sebagai anak bangsa prihatin kalau bangsa saya dihabisi.

Saya sering ke Tanjungbalai, ada satu gerakan Cina di sana, mereka sengaja membeli tanah-tanah di dekat masjid dan mereka tidak mau jual. Sehingga masjid tidak bisa dibesarkan, kanan kiri itu diapit Cina.
Coba periksa, hampir semua masjid di tanjung balai itu kanan kiri depan belakang selalu dibeli Cina dengan harga tinggi dan tidak mau dijual kepada masjid. Sehingga masjid tidak bisa dibesarkan. Kita sudah ada uang mau melebarkan masjid mereka tidak mau jual.

Itu kasus di Tanjungbalai sudah bertahun-tahun. Arogannya bukan main. Ini sudah jadi akumulasi dari arogansi cina dan menyebabkan emosi masyarakat meluap. Terpancing sedikit saja luar biasa.

Kiblat.net: Terakhir, apa nasihat Kyai terkait kasus ini agar tidak terulang di masa mendatang?

Pemerintah ini jangan mengatasi ranting-rantingnya, jangan daun-daunnya saja. Tapi akar penyebab masalahnya. Kenapa warga geram terhadap orang-orang etnis Cina? Itu yang harus diselesaikan, bukan orang diancam-ancam. Tidak bisa orang diancam-ancam.

Bikin peraturan tidak akan menyelesaikan masalah, selama tiga itu: kezaliman, ketertindasan, dan ketidakberdayaan itu tidak dihilangkan dari bangsa Indonesia yang semakin miskin itu. [kiblat.net]
Read more...

Wasiat Sahabat Abu Bakar Kepada Sahabat Umar Yang Dikenang Sepanjang Hayatnya

0 komentar


Menjelang wafat, Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menuliskan wasiat kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang baru saja dilantik menjadi khalifah. Wasiat ini membuat merinding. Namun wasiat ini pula yang terngiang-ngiang dalam jiwa Umar hingga terkenal sebagai amirul mukminin yang adil dan zuhud.

“Wahai Putra Khattab, sesungguhnya Allah telah memikulkan tanggung jawab ini pada malam hari, maka janganlah engkau menangguhkannya pada siang hari. Sesungguhnya Allah telah memikulkan tanggung jawab ini pada siang hari, maka janganlah engkau menangguhkannya pada malam hari.

Wahai Putra Khattab, sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan-amalan sunnah sebelum engkau menunaikan amalan-amalan fardhu. Bukankah engkau mengetahui, wahai Umar, bahwa pada hari perhitungan kelak, sesungguhnya neraca amal seseorang akan menjadi berat dikarenakan ia melaksanakan kebenaran. Bukankah engkau juga mengetahui bahwa pada hari perhitungan kelak, sesungguhnya neraca amal seseorang akan menjadi ringan dikarenakan ia membela kepalsuan.


Tidakkah engkau mengetahui, wahai Umar, bahwa Allah menurunkan ayat-ayat harapan dan kebahagiaan di dalam ayat-ayat ancaman dan kepedihan dan ayat-ayat kepedihan di dalam ayat yang ada harapan. Hal ini dimaksudkan agar manusia takut dan sekaligus berharap serta tidak menyeret dirinya pada kebinasaan dan tidak berharap kepada Allah secara tidak benar.
Tidakkah engkau melihat, wahai Umar, bahwa Allah telah menceritakan penderitaan ahli neraka. Jika engkau mengingatnya, maka ucapkanlah dalam batinmu: semoga aku tidak menjadi golongan mereka

Dan tidak kah engkau melihat wahai Umar bahwa Allah telah menceritakan kebahagiaan penduduk surga. Jika engkau mengingatnya, maka ucapkanlah dalam batinmu: semoga aku mampu berbuat seperti apa yang telah mereka perbuat.

Jika engkau menjaga wasiatku ini, maka tidak ada sesuatu yang tidak tampak yang paling engkau sukai selain kematian dan memang begitulah seharusnya. Jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini maka tidak ada sesuatu yang tidak tampak namun paling engkau benci selain kematian dan memang begitulah seharusnya yang kau lakukan.” 


*Sumber: Kisah Hidup Umar bin Khattab karya Dr Musthafa Murad
Read more...

Kisah Inspirasi: Bagaimana Cara Mahasiswa Cerdas Ini Menyadarkan Seorang Dosen Penghina Kitab Alquran?

0 komentar
Kisah ini menyadarkan seorang dosen kenapa umat islam begitu marah ketika orang menghina Al Quran. Cerita ini bagus untuk menyadarkan kita kenapa kita harus menjadikan alquran sebagai bagian dari kehormatan sebagai seorang muslim.

Dosen yang terkenal liberal itu mulai berceramah. Namun, ia tidak langsung masuk ke mata kuliahnya. Ia justru berbicara tentang fenomena umat Islam yang menurutnya pemarah. Ada yang memprotes adzan, marah. Ada yang membakar Al Quran, marah.

Padahal, menurutnya, yang dibakar itu hanya kertas. Sedangkan Al Quran yang sebenarnya ada di lauhul lahfudz. Tak bisa dibakar, tak bisa dilecehkan.

“Saya benar-benar heran dengan umat Islam. Terlalu lebay, menurut saya. Hanya karena ada yang menginjak mushaf Al Quran, mereka marah lalu ribuan orang menggelar demonstrasi di mana-mana. Padahal yang dibakar itu cuma kertas. Hanya media tempat menulis Al Quran. Al Quran aslinya ada di lauhul mahfuzh,” kata dosen itu. “Saya pikir para mahasiswa harus dicerdaskan soal ini.”

Ruang kuliah itu hening beberapa saat. Sebagian mahasiswa agaknya setuju dengan pemikiran sang dosen. Hingga kemudian, seorang mahasiswa yang dikenal cerdas mengacungkan tangan.

“Memang Al Quran itu, hakikatnya ada di lauhul mahfuzh,” katanya sambil berjalan mendekati dosen.

“Maaf, Pak. Boleh saya melihat makalah Bapak?” Wajah mahasiswa lainnya menegang. Mereka khawatir akan ada insiden yang tidak terduga antara mahasiswa yang dikenal sebagai aktifis dakwah itu dengan dosennya yang liberal.

“Makalah ini bagus Pak,” Wajah-wajah yang tadinya sempat tegang kini normal kembali. Namun itu hanya sesaat, karena setelah itu, mahasiwa tersebut melempar makalah ke lantai kemudian menginjaknya. “Sayang sekali analisanya kurang komprehensif”

Tak cukup menginjak. Ia ludahi makalah itu kemudian ia injak-injak lagi. Praktis makalah tersebut menjadi kotor dan rusak.

Di dekatnya, sang dosen melotot. Mukanya merah padam. Kedua telapak tangannya menggenggam erat.

“Kurang ajar! Kamu menghina karya ilmiah saya. Kamu menghina pemikiran saya,” kata sang dosen sembari melayangkan tangannya ke arah mahasiswa. Namun, dengan cekatan mahasiswa itu menangkisnya.

“Marah ya Pak? Saya hanya menginjak kertas. Saya hanya meludahi kertas. Saya hanya melecehkan kertas. Saya tidak melecehkan pemikiran Bapak karena pemikiran Bapak ada di kepala Bapak. Saya kan tidak menginjak kepala Bapak. Saya pikir Bapak harus dicerdaskan soal ini.”

Mendengar itu, sang dosen tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia seperti mendapatkan serangan balik yang mematikan. Segera, buku-bukunya dikemasi dan ia meninggalkan ruang kuliah itu dengan muka merah padam. 
Read more...

Hidayah Islam Telah Mengubah Kehidupan Boss Gangster Ini !

0 komentar
Hidayah tak mengenal latar belakang dan masa lalu seseorang. Vince Focarelli, mantan bos gangster terkenal asal Australia, kini telah bertobat dan memeluk Islam. Sebagai salah satu bentuk pertaubatannya dari dosa-dosa masa lalu, Focarelli membuka restoran halal yang sebagian keuntungannya untuk memberi makan tunawisma dan para dhuafa.

Focarelli dulunya adalah pimpinan gangster Comanchero yang menguasai South Adelaide. Pada tahun 2010 hingga 2012, Focarelli menjadi target pembunuhan. Enam kali usaha pembunuhan menyasarnya, mulai dari penembakan di supermarket, serangan bom yang menewaskan dua rekannya yang menjadi anggota gangster Hells Angels, hingga penembakan di Dry Creek pada Januari 2012 yang menewaskan anaknya, Giovanni.

 "Kami sangat kehilangan Giovanni. Dia selalu ada di hati kami," kata Focarelli mengenang serangan yang juga membuatnya terluka dan dijebloskan ke penjara atas tuduhan penyelundupan narkoba.

Kini Focarelli berubah 180 derajat. Ia bertaubat atas masa lalunya yang gelap. Ia kini telah mendirikan restoran halal dan menjauhi dunia kegelapan. Dengan restorannya itulah, Focarelli memberi makan tunawisma dan kaum dhuafa.

"Sebagai Muslim, tanggung jawab kita adalah memberi,” kata Focarelli. [Ibnu K/Tarbiyah.net]
Read more...

Berita Terbaru

 

Copyright © Monitor Jurnal