Tak bisa dipungkiri peranan pondok pesantren dari masa ke masa sangatlah besar jasanya terutama, sejak zaman penjajahan hingga kini, pondok pesantren (ponpes) banyak memberikan sumbangsih bagi kemerdekaan Indonesia. Wajar bila pesantren disebut sebagai benteng pertahanan terakhir kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagaimana tidak, jauh sebelum kemerdekaan, gemuruh semangat kemerdekaan telah dikobarkan di kalangan pesantren.
Dari sekian banyak, salah satu pesantren yang memiliki sumbangsih terbesar bagi bangsa yakni Ponpes Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Ponpes Tebuireng berdiri jauh sebelum era kemerdekaan, tahun 1899 silam. Kala itu, KH Hasyim Asyari yang merasa miris melihat kondisi Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang yang terkenal sebagai sarang perjudian, perampokan serta pelacuran.
Secara bertahap, KH Hasyim Asyari kemudian mampu melakukan dakwahnya dan menyebarkan agama Islam. Bahkan ketika perang mempertahankan kemerdekaan, Ponpes Tebuireng menjadi salah satu benteng pertahanan bagi para pejuang. Ketika, tentara sekutu ingin menguasai Kota Surabaya, kiai yang berjuluk hadratus syaikh ini bersama dengan kiai lainnya mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda pada 22 oktober 1945.
"Ketika itu kondisi bangsa Indonesia memang dalam keadaan genting. Karena itulah kemudian, Mbah Hasyim bersama dengan kiai lainnya berkumpul di Surabaya, dan merumuskan Resolusi Jihad itu. Di mana pada intinya, santri, umat Muslim wajib hukumnya membantu tentara Indonesia melawan sekutu. Karena semangat ke-Indonesaiaan saat itu belum begitu kuat, sehingga fatwa perang jihad itu yang dikumandangkan," ungkap KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (25/8/2016).
KH Hasyim Asyari, merupakan kiai karismatik yang mumpuni dalam ilmu agama. Khususnya tafsir, hadits dan fiqih. Tak heran jika sejak didirikan, ponpes Tebuireng menjadi panutan bagi pesantren lain di Nusantara. Wajar jika dari pesantren ini, banyak tokoh besar lahir. Seperti KH Wahid Hasyim, hingga mantan presiden RI ke-IV, yakni KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan tokoh lainnya.
"Kalau dulu memang iya. Saat dipimpin oleh Mbah Hasyim, memang Tebuireng salah satu pesantren yang menjadi panutan. Namun saat ini banyak pesantren-pesantren lain yang juga sudah bisa dijadikan panutan. Itu sebuah kebanggaan dan kekayaan bangsa sebenarnya," papar kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini.
Kini, diusianya yang sudah menginjak lebih dari satu abad, tepatnya 117 tahun, Ponpes Tebuireng telah menjelma menjadi pesantren yang lebih moderat. Meskipun masih mengedepankan pendidikan salafi, Tebuireng kini menjadi simbol dari pendidikan agama islam di Indonesia. Sistem pendidikan salafi yang selama ini dipegang, kini diimbangi dengan pendidikan umum, baik sains dan pengetahuan lain.
"Ada 800 ayat-ayat yang membahas alam semesata dan itu perlu diketahui oleh para santri. Mereka harus diajari untuk berfikir kritis, dan juga dasar-dasar ilmu filsafat serta hal-hal lain untuk mengembangkan diri. Karena ulama Islam tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga ilmu menguasai ilmu non agama, misalnya matematika, fisika, optik, kedokteran, dan lainnya," tutur cucu KH Hasyim Asyari ini.
Saat ini, sebanyak 4.000 lebih santri yang menimba ilmu di ponpes Tebuireng Jombang. Dan sudah tak terhitung lagi berapa ribu jumlah alumni santri Ponpes Tebuireng yang kini telah membaur menjadi penggerak di masyarakat. Hingga kini, ide perjuangan KH Hasyim Asyari itulah yang kini terus ditanamkan di dalam diri santri. Dengan menggunakan kitab karya-karya KH Hasyim Asyari sebagai pedoman.
"Impian kami, kami ingin kembali ke abad-abad lama dulu, ketika ilmu agama dan ilmu non agama itu tidak dipertentangkan, tapi saling memperkuat. Menurut saya, pesantren ini perlu mendirikan universitas dan pemerintah wajib untuk membantu pesantren untuk mendirikan perguruan tinggi. Karena sumbangsih pesantren sangat tinggi kepada negara ini," terang Gus Sholah. (news.okezone.com)
