Advertise

 
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan Indonesia. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Agustus 2016

Festival Danau Toba, Sumatera Utara

0 komentar

Kawasan Danau Toba adalah kawasan yang sudah lama mati suri sebagai tujuan wisata. Setiap tahun hanya dikunjungi sekitar 180 ribu sampai 200 ribu orang saja, padahal potensinya sangat luar biasa. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo telah memberikan target hingga tahun 2019, kunjungan wisata ke Danau Toba harus lebih dari satu juta orang setiap tahun.
Bukan pekerjaan mudah memang, tetapi potensinya malah jauh di atas target itu. Jika kunjungan wisata meningkat dari waktu ke waktu, kita yakin pusat pertumbuhan ekonomi baru akan lahir di kawasan Danau Toba. Perputaran uang akan meningkat, lowongan pekerjaan akan meningkat, daya beli masyarakat akan meningkat serta kesejahteraan akan tercapai. Semua ini membutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Danau Toba mempunyai sejarah dan asal-usul yang unik berdasarkan legenda cerita rakyat dan berdasarkan penelitian ilmiah. Dengan ketinggian hampir 1 Kilometer di atas permukaan laut dan dilelilingi oleh deretan gunung berapi yang merupakan bagian dari pegununungan bukit barisan membuat Danau Toba begitu sejuk dan indah. Ada tujuh kabupaten yang berada di sepanjang pinggiran Danau Toba. Banyak pohon enau dan pinus yang tumbun subur di sekeliling Danau Toba menambah keindahan danau ini. Di sebelah utara Danau Toba masih bisa dijumpai berbagai fauna yang menarik hati, seperti lutung, orang utan dan beberapa jenis monyet. Sedangkan di bagian selatan Danau Toba terdapat fauna yang berbeda jenis seperti monyet lingur, tapir dan ingkir. Tentulah hal ini juga unik karena danau ini seolah-olah berfungsi sebagai garis pemisah ekologi fauna di sisi utara dan selatan Danau Toba.

Danau Toba yang berawal dari letusan gunung purba di Sumatera Utara ini menjadi salah satu ikon wisata Indonesia dengan Pulau Samosir yang menjadi salah satu primadonanya. Setiap tahun di tempat ini, Festival Danau Toba diselenggarakan dengan menampilkan beragam atraksi seni budaya dan wisata olahraga. Tahun ini, Festival Danau Toba akan diselenggarakan pada bulan September.
Festival Danau Toba telah berlangsung sejak 2013. Kegiatan festival ini merupakan pengganti dari Pesta Danau Toba yang sudah ada sejak 1983.

Read more...

Festival Lembah Baliem, Papua

0 komentar



Festival ini sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Eksotisme suku-suku papua dan kekayaan budayanya menjadi daya tarik bagi para wisatawan maupun fotografer.
Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali. Pada saat festival kita bisa melihat simulasi perang dan pertunjukan tarian yang mereka perlihatkan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk dinikmati. Awalnya pertama kali digelar tahun 1989,
Festival Lembah Baliem kini rutin digelar tiap tahun. Festival ini  berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus.
Read more...
Minggu, 28 Agustus 2016

Dieng Culture Festival, Wonosobo dan Banjarnegara

0 komentar

Anak berambut gembel adalah anak bajang titisan Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce selaku leluhur warga suku Dieng. Karena dianggap titisan dewa itulah, maka anak berambut gembel tidak boleh dipotong rambutnya secara sembrono (asal). Jika rambut anak gembel dipotong tidak melalui acara ritual yang khusus, maka si anak akan jatuh sakit dan dipercaya akan mendatangkan bencana bagi keluarganya.

Festival ini diselenggarakan di dataran tinggi Dieng, menampilkan berbagai pertunjukkan seni dan budaya dari penduduk lokal. Ada  upacara yang paling ditunggu-tunggu wisatawan, yakni ruwat rambut gimbal. Di Dieng, beberapa anak memiliki rambut gimbal asli yang dilatar belakangi oleh keyakinan dan mitos warga setempat. Pada puncak acara DFC, rambut anak-anak yang gimbal secara alami tersebut akan dipotong kemudian diupacarakan untuk dilarung ke sungai.
Wisatawan dapat menyaksikan konser “Jazz atas awan”, festival lampion dan kembang api, juga festival film. Jangan lupa untuk mencicipi minuman khas Dieng yakni Purwaceng, menikmati kuliner khas seperti mie ongklok, tempe kemul dan manisan carica. Dieng Culture Festival akan dihelat pada bulan Agustus.

Read more...

Festival Tidore, Maluku Utara

0 komentar

Festival Tidore merupakan sebuah festival budaya yang dikolaborasikan dengan tadisi adat. Acara ini diawali dengan prosesi Dowari, kemudian akan ada ritual Soa Romtoha. Soa Romtoha merupakan ritual pertemuan lima warga untuk mengantar air menggunakan rau yang diambil dari puncak Gunung Kie Matabu untuk dipersatukan dalam bambu.
Ada banyak atraksi budaya lainnya, seperti lomba Kabate, Maku Tai (lomba memancing), Raib Taji Besi (atraksi debus, batu, dan jumbia), dan ritual Lufu Kesultanan Tidore. Tahun ini, festival Tidore rencananya akan diselenggarakan pada bulan April.

Read more...

Pesta Budaya Asmat, Papua

0 komentar

Nama Asmat sudah dikenal dunia sejak tahun 1904. Tercatat pada tahun 1770sebuah kapal yang dinahkodai James Cook mendarat di sebuh teluk di daerah Asmat. Tiba-tiba muncul puluhan perahu lesung panjang didayungi ratusan laki-laki berkulit gelap dengan wajah dan tubuh yang diolesi warna-warna merah,hitam, dan putih. Mereka ini menyerang dan berhasil melukai serta membunuh beberapa anak buah James Cook. Berabad-abad kemudian pada tepatnya tanggal 10 Oktober 1904, Kapal SS Flamingo mendarat di suatu teluk di pesisir  barat daya Irian jaya.
Bahasa-bahasa yang digunakan orang Asmat termasuk kelompok bahasa yangoleh para ahli linguistik disebut sebagai Language of the Southern Division, bahasa-bahasa bagian selatan Irian Jaya. Bahasa ini pernah dipelajari dandigolongkan oleh C.L Voorhoeve (1965) menjadi filum bahasa-bahasa Irian(Papua) Non-Melanesia
Suku Asmat adalah salah satu suku yang mendiami wilayah Papua bagian Selatan, diapit oleh Kabupaten Merauke, Mappi, Mimika, Yahukimo dan Nduga. Populasinya terbagi dua yaitu mereka yang hidup dipesisir pantai dan pedalaman serta memiliki perbedaan satu sama lainnya dalam hal cara hidu, struktur social dan ritual, hal ini dapat dilihat dari hasil karya-karya mereka dalam mengukir patung.
Kabupaten Asmat awalnya adalah bagian dari Kabupaten Merauke yang terdiri dari kecamatan Agats, Ayam, Atsj, Sawa Erma dan Pantai Kasuari. Hingga saat ini Kabupaten Asmat terdiri dari 10 Distrik (Agats, Atsj, Akat, Fayit, Pantai Kasuari, Sawa Erma, Suator, Kolf Brasa, Unir Sirau dan Suru-suru).
Hasil karya ukiran dalam Festival Budaya Asmat yang dimuseumkan. (www.asmatkab.go.id)
Festival budaya Asmat telah diadakan sejak 1981. Suku Asmat telah lama dikenal dengan keahliannya dalam membuat ukiran. Mereka biasa mengekspresikan imajinasi ke dalam sebuah ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu.
 Berbagai kegiatan akan dilaksanakan dalam festival ini, antara lain lomba perahu, demo membuat ukiran, lelang patung, dan pemilihan putra-putri Asmat. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati pertunjukan tarian dan musik khas Asmat. Tahun ini, Festival Budaya Asmat dilaksanakan bulan Januari di Kabupaten Asmat, Papua.

Read more...

Berita Terbaru

 

Copyright © Monitor Jurnal