Advertise

 
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Agustus 2016

Tewasnya Sang Nabi Palsu, Musailamah Al Kadzdzab Di Perang Yamamah

0 komentar




Perang Yamamah merupakan perang yang menitik beratkan kepada terbunuhnya Musailamah Al Kadzdzab. Tahukah kamu siapakah orang laknatullah ini?
Dalam kitab Futuh al-Buldan oleh al-Baladzuri, Hal: 100. Musailamah Al Kadzdzab adalah orang yang hidup pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diberikan usia yang panjang yaitu sampai 150 tahun.
Dikisahkan dalam buku tersebut bahwa Musailamah Al Kadzdzab adalah seorang pendusta yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi pada masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah alasan kenapa dia dijuluki Al Kadzadzab (pendusta).
Perang Yamamah terjadi dalam beberapa hari. Pada saat itu kaum muslim dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu ‘anhu berhasil memukul mundur pasukan kafir yang berjumlah antara 40-60 orang. Namun perang ini terus saja berlanjut di keesokan paginya.
Pada keesokan harinya kaum kafir dibawah komando Musailamah Al Kadzdzab berhasil mengumpulkan pasukan sebanyak 100.000 yang posisi mereka berada diatas angin sehingga berhasil menekan pasukan kaum muslimin yang hanya 12.000 orang saja.
Namun tidak sampai disitu saja, kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid berhasil mengobarkan api semangat jihad dan terus menyerang pasukan kaum kuffar.
Pada situasi yang sangat genting Tsabit bin Qais memotivasi dirinya dan kaum muslimin dengan mengatakan,
“Alangkah buruknya yang kalian biasakan (perbuat) ini wahai kaum muslimin. Ya Allah, aku berlepas diri dari apa yang mereka orang-orang Yamamah perbuat. Dan aku mohon maaf Mu atas apa yang diperbuat kaum muslimin”.
Kemudian ia berperang hingga menemui ajalnya.
Perjuangan kaum muslimin tidak sampai disitu saja, meskipun kaum kuffar tersebut berhasil memojokkan pasukan yang dibawah kendali Khalid bin Walid. Api semangat jihad terus bergelora di hati para kaum muslimin.
Hingga tibalah seorang budak hitam dari kalangan Anshar bernama Wahsyi bin Harb berhasil membunuh  Musailamah Al Kadzdzab si Nabi palsu.
Tewasnya Musailamah meruntuhkan moral pengikutnya. Kebanggaan dan kesombongan mereka serta merta luruh, larut dalam situasi itu. Mereka seolah-olah tersadar dari sihir, bingung tak berbuat sesuatu pun.
Akhirnya mereka menyerah. Setelah sejumlah 21.000 dari mereka tewas dalam pertempuran. Dan ada yang mengatakan 500 atau 600 atau bahkan 1200 kaum muslimin syahid. Jumlah korban yang besar.
Demikianlah kisah perang yang terjadi di Yamamah. Adapun pesan yang diambil dari kisah ini adalah tak seorangpun yang dapat menggantikan posisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah dia wafat.
Karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang terakhir dan tidak ada nabi setelah beliau wafat.
Sehingga dengan begitu ketika terdengar oleh sahabat tentang orang yang mengaku Nabi maka tiada cara selain membunuhnya, memeranginya atau dia kembali kepada ajaran islam.
(satujam.com)
Read more...
Minggu, 28 Agustus 2016

Pesantren Tebuireng Mempunyai Andil Besar Dalam Mempertahankan Kemerdekaan RI....

0 komentar





Tak bisa dipungkiri peranan pondok pesantren dari masa ke masa sangatlah besar jasanya terutama, sejak zaman penjajahan hingga kini, pondok pesantren (ponpes) banyak memberikan sumbangsih bagi kemerdekaan Indonesia. Wajar bila pesantren disebut sebagai benteng pertahanan terakhir kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagaimana tidak, jauh sebelum kemerdekaan, gemuruh semangat kemerdekaan telah dikobarkan di kalangan pesantren.
Dari sekian banyak, salah satu pesantren yang memiliki sumbangsih terbesar bagi bangsa yakni Ponpes Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Ponpes Tebuireng berdiri jauh sebelum era kemerdekaan, tahun 1899 silam. Kala itu, KH Hasyim Asyari yang merasa miris melihat kondisi Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang yang terkenal sebagai sarang perjudian, perampokan serta pelacuran.

Secara bertahap, KH Hasyim Asyari kemudian mampu melakukan dakwahnya dan menyebarkan agama Islam. Bahkan ketika perang mempertahankan kemerdekaan, Ponpes Tebuireng menjadi salah satu benteng pertahanan bagi para pejuang. Ketika, tentara sekutu ingin menguasai Kota Surabaya, kiai yang berjuluk hadratus syaikh ini bersama dengan kiai lainnya mengumandangkan Resolusi Jihad melawan Belanda pada 22 oktober 1945.
"Ketika itu kondisi bangsa Indonesia memang dalam keadaan genting. Karena itulah kemudian, Mbah Hasyim bersama dengan kiai lainnya berkumpul di Surabaya, dan merumuskan Resolusi Jihad itu. Di mana pada intinya, santri, umat Muslim wajib hukumnya membantu tentara Indonesia melawan sekutu. Karena semangat ke-Indonesaiaan saat itu belum begitu kuat, sehingga fatwa perang jihad itu yang dikumandangkan," ungkap KH Salahuddin Wahid, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (25/8/2016).
KH Hasyim Asyari, merupakan kiai karismatik yang mumpuni dalam ilmu agama. Khususnya tafsir, hadits dan fiqih. Tak heran jika sejak didirikan, ponpes Tebuireng menjadi panutan bagi pesantren lain di Nusantara. Wajar jika dari pesantren ini, banyak tokoh besar lahir. Seperti KH Wahid Hasyim, hingga mantan presiden RI ke-IV, yakni KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan tokoh lainnya.
"Kalau dulu memang iya. Saat dipimpin oleh Mbah Hasyim, memang Tebuireng salah satu pesantren yang menjadi panutan. Namun saat ini banyak pesantren-pesantren lain yang juga sudah bisa dijadikan panutan. Itu sebuah kebanggaan dan kekayaan bangsa sebenarnya," papar kiai yang akrab disapa Gus Sholah ini.
Kini, diusianya yang sudah menginjak lebih dari satu abad, tepatnya 117 tahun, Ponpes Tebuireng telah menjelma menjadi pesantren yang lebih moderat. Meskipun masih mengedepankan pendidikan salafi, Tebuireng kini menjadi simbol dari pendidikan agama islam di Indonesia. Sistem pendidikan salafi yang selama ini dipegang, kini diimbangi dengan pendidikan umum, baik sains dan pengetahuan lain.
"Ada 800 ayat-ayat yang membahas alam semesata dan itu perlu diketahui oleh para santri. Mereka harus diajari untuk berfikir kritis, dan juga dasar-dasar ilmu filsafat serta hal-hal lain untuk mengembangkan diri. Karena ulama Islam tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga ilmu menguasai ilmu non agama, misalnya matematika, fisika, optik, kedokteran, dan lainnya," tutur cucu KH Hasyim Asyari ini.
Saat ini, sebanyak 4.000 lebih santri yang menimba ilmu di ponpes Tebuireng Jombang. Dan sudah tak terhitung lagi berapa ribu jumlah alumni santri Ponpes Tebuireng yang kini telah membaur menjadi penggerak di masyarakat. Hingga kini, ide perjuangan KH Hasyim Asyari itulah yang kini terus ditanamkan di dalam diri santri. Dengan menggunakan kitab karya-karya KH Hasyim Asyari sebagai pedoman.
"Impian kami, kami ingin kembali ke abad-abad lama dulu, ketika ilmu agama dan ilmu non agama itu tidak dipertentangkan, tapi saling memperkuat. Menurut saya, pesantren ini perlu mendirikan universitas dan pemerintah wajib untuk membantu pesantren untuk mendirikan perguruan tinggi. Karena sumbangsih pesantren sangat tinggi kepada negara ini," terang Gus Sholah. (news.okezone.com)


Read more...
Selasa, 09 Agustus 2016

Riwayat Ka'Bah Dari Masa Ke Masa

0 komentar


Awalnya, Mekkah hanyalah sebuah hamparan kosong. Sejauh mata memandang pasir bergumul di tengah terik menyengat. Aliran zamzamlah yang pertama kali mengubah wilayah gersang itu menjadi sebuah komunitas kecil tempat dimulainya peradaban baru dunia Islam.

Bangunan persegi bernama Ka’bah didaulat menjadi pusat dari kota itu sekaligus pusat ibadah seluruh umat Islam. Mengunjunginya adalah salah satu dari rukun Islam, Ibadah Haji.

Ka’bah masih tetap berdiri kokoh hingga saat ini dan diperkirakan masih terus berdiri hingga kiamat menjelang. Beberapa generasi pernah menjadi saksi berdirinya Ka’bah hingga berbagai kemelut menyelimutinya.

Adalah Ismail, putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, yang kaki mungilnya pertama kali menyentuh sumber mata air zamzam. Akibat penemuan mata air abadi ini, Siti Hajar dan Ismail yang kala itu ditinggal oleh Ibrahim ke Kanaan di tengah padang, tiba-tiba kedatangan banyak musafir. Beberapa memutuskan untuk tinggal, beberapa lagi beranjak.

Ibrahim datang dan kemudian mendapatkan wahyu untuk mendirikan Ka’bah di kota kecil tersebut. Ka’bah sendiri berarti tempat dengan penghormatan dan prestise tertinggi.

Ka’bah yang didirikan Ibrahim terletak persis di tempat Ka’bah lama yang didirikan Nabi Adam hancur tertimpa banjir bandang pada zaman Nabi Nuh. Adam adalah Nabi yang pertama kali mendirikan Ka’bah.
Tercatat, 1500 SM adalah merupakan tahun pertama Ka’bah kembali didirikan. Berdua dengan putranya yang taat, Ismail, Ibrahim membangun Ka’bah dari bebatuan bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.
Bangunan mereka semakin tinggi dari hari ke hari, dan kemudian selesai dengan panjang 30-31 hasta, lebarnya 20 hasta. Bangunan awal tanpa atap, hanyalah empat tembok persegi dengan dua pintu.

Celah di salah satu sisi bangunan diisi oleh batu hitam besar yang dikenal dengan nama Hajar Aswad. Batu ini tersimpan di bukit Qubays saat banjir besar melanda pada masa Nabi Nuh.

Batu ini istimewa, sebab diberikan oleh Malaikat Jibril. Hingga saat ini, jutaan umat Muslim dunia mencium batu ini ketika berhaji, sebuah lelaku yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad.

Selesai dibangun,  Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Rumah Tuhan. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Karena tidak beratap dan bertembok rendah, sekitar dua meter, barang-barang berharga di dalamnya sering dicuri. Bangsa Quraisy yang memegang kendali atas Mekkah ribuan tahun setelah kematian Ibrahim berinisiatif untuk merenovasinya. Untuk melakukan hal ini, terlebih dahulu bangunan awal harus dirubuhkan.
Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy adalah orang yang pertama kali merobohkan Ka’bah untuk membangunnya menjadi bangunan yang baru.

Pada zaman Nabi Muhammad, renovasi juga pernah dilakukan pasca banjir besar melanda. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasukkan Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Rasulullah berperan besar dalam hal ini. Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan secarik kain. Ide ini berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 692. Sebelum renovasi, Ka’bah terletak di ruang sempit terbuka di tengah sebuah mesjid yang kini dikenal dengan Masjidil Haram. Pada akhir tahun 700-an, tiang kayu mesjid diganti dengan marmer dan sayap-sayap mesjid diperluas, ditambah dengan beberapa menara. Renovasi dirasa perlu, menyusul semakin berkembangnya Islam dan semakin banyaknya jemaah haji dari seluruh jazirah Arab dan sekitarnya.

Wajah Masjidil Haram modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Pada penyatuan Arab Saudi tahun 1932, negara ini didaulat menjadi Pelindung Tempat Suci dan Raja Abdul Aziz adalah raja pertama yang menyandang gelar Penjaga Dua Mesjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Pada pemerintahannya, Masjidil Haram diperluas hingga dapat memuat kapasitas 48.000 jemaah, sementara Masjid Nabawi diperluas hingga dapat memuat 17.000 jemaah.

Pada pemerintahan Raja Fahd tahun 1982, kapasitas Masjidil Haram diperluas hingga memuat satu juta jemaah. Renovasi ketiga selesai pada tahun 2005 dengan tambahan beberapa menara. Pada renovasi ketiga ini, sebanyak 500 tiang marmer didirikan, 18 gerbang tambahan juga dibuat. Selain itu, berbagai perangkat modern, seperti pendingin udara, eskalator dan sistem drainase juga ditambahkan.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Haram akan diperluas hingga 35 persen, dengan kapasitas luar mesjid dapat menampung 800.000 hingga 1.120.000 jemaah. Jika rampung, bagian dalam Masjidil Haram akan dapat menampung hingga dua juta jemaah.

Banjir Ka’bah
Bencana alam yang mungkin sering terjadi di wilayah Mekkah adalah banjir. Terbesar tentu saja pada masa banjir bandang Nabi Nuh. Kala itu seluruh bangunan Ka’bah runtuh. Banjir juga terjadi beberapa kali di masa Nabi Muhammad. Sepeninggalnya, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, banjir merusak dinding-dinding Ka’bah.

Salah satu banjir yang sempat terdokumentasikan adalah banjir besar pada tahun 1941. Dalam gambar yang dipublikasikan secara luas, terlihat bagian dalam Masjidil Haram terendam banjir hingga hampir setengah tinggi Ka’bah.

Di beberapa tempat bahkan mencapai leher orang dewasa. Banjir-banjir inilah yang kemudian membuat beberapa tiang mesjid yang terbuat dari kayu menjadi lapuk dan rapuh. Kerajaan Saudi terpaksa harus melakukan perbaikan beberapa kali untuk mengatasi hal ini.

Banjir sering terjadi di Mekkah karena letak geografis kota tersebut yang diapit beberapa bukit. Hal ini menjadikan Mekkah berada di dataran rendah yang letaknya seperti mangkuk. Air hujan tidak dapat dapat mudah diserap oleh tanah, mengingat lahan Timur Tengah yang tandus. Alhasil banjir bisa berlangsung selama beberapa lama. Ditambah lagi, sistem drainase kala itu tidak sebaik sekarang.

Selain banjir, berbagai insiden pertumpahan darah tercatat pernah mewarnai sejarah Masjidil Haram. Mulai dari zaman sebelum Nabi Muhammad lahir hingga ke zaman modern di abad ke 20. Beberapa insiden tersebut diakhiri dengan kemenangan para penguasa Ka’bah.

Serangan Gajah
Serangan terhadap Ka’bah yang paling terkenal terjadi pada tahun 571 Masehi, tahun kelahiran Nabi Muhammad. Kala itu, sebanyak 60.000 pasukan gajah yang dipimpin oleh Gubernur Yaman, Abrahah, berencana menyerbu Mekkah dan menghancurkan Ka’bah.

Negara Yaman adalah salah satu negara Kristen besar kala itu. Sebuah gereja besar yang indah didirikan pada pemerintahan Raja Yaman, Habshah. Gereja tersebut bernama Qullais. Abrahah sebagai pembina gereja bersumpah akan memalingkan pemujaan warga Arab dari Ka’bah di Mekkah ke gerejanya di Yaman.

Alkisah, mendengar hal ini, seorang Arab dari qabilah Bani Faqim bin Addiy tersinggung kemudian masuk ke dalam gereja dan membuang hajat di dalamnya. Abrahah marah luar biasa dan bersumpah akan meruntuhkan Ka’bah. Berangkatlah dia beserta tentara terkuatnya, menunggang 60.000 ekor gajah.

Tidak ada satupun kekuatan kabilah Arab Saudi yang mampu menandingi kekuatan puluhan ribu tentara gajah tersebut. Berdasarkan komando dari kakek Muhammad, Abdul Mutalib, para penduduk Mekkah mengungsi ke puncak-puncak bukit di sekeliling Ka’bah. Berangkatlah rombongan tentara Abrahah menuju Ka’bah, hendak menghancurkan bangunan mulia tersebut.

Menurut kisah, laju tentara gajah terhenti akibat serangan dari ribuan burung Ababil. Burung-burung ini membawa tiga butir batu panas di kedua kakinya dan paruhnya. Dilepaskannya batu-batu tersebut di atas tentara gajah. Batu yang konon berasal dari neraka itu menembus daging para tentara dan gajah-gajah mereka. Sebuah tafsir mengatakan burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan para tentara Abrahah tewas akibat bisul yang sangat panas.

Inilah sebabnya, tahun penyerangan tentara Abrahah ke Mekkah dinamakan sebagai Tahun Gajah. Kisah ini juga tertulis jelas di surat Al Fiil di kitab suci Al-Quran. “Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (Al Fiil: 3-4).

Bentrok dengan Iran
Di zaman modern, insiden paling sering adalah bentrok aparat keamanan Arab Saudi dengan para demonstran asal Iran. Kehadiran para demonstran merupakan perintah dari pemerintah Iran agar para jemaah haji Iran menyampaikan protes terhadap kerajaan Saudi.

Kerusuhan terparah terjadi pada 31 Juli 1987 yang menewaskan 401 orang. Di antaranya adalah 275 warga Iran, 85 warga Arab Saudi, dan 42  jemaah haji asal negara lain. Sebanyak 643 orang terluka, kebanyakan adalah jemaah haji Iran.

Perseteruan antara Arab Saudi dengan Iran sudah berlangsung relatif lama. Dimulai saat Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Salaf kenamaan Arab Saudi, memerintahkan penghancuran beberapa makam yang dikultuskan umat Islam di Hejaz, termasuk makam ulama Syiah Al-Baqi, pada tahun 1925.

Tindakan ini tidak ayal membuat marah pemerintahan dan rakyat Iran yang mayoritas Syiah.  Kemelut pun dimulai, Iran menyerukan penggulingan pemerintahan di Arab Saudi dan melarang seluruh warga Iran pergi haji pada tahun 1927.

Ketegangan bertambah parah setelah pada tahun 1943, pemerintah Arab Saudi memenggal kepala seorang jemaah haji Iran karena membawa kotoran manusia di pakaiannya ke dalam Masjidil Haram di Mekkah.
Iran protes keras dan melarang warganya pergi haji hingga tahun 1948.

Sejak saat itu, demonstrasi jemaah haji Iran terus dilakukan di Mekkah. Ini berkat imbauan Ayatullah Khomeini pada tahun 1971 yang memerintahkan setiap jemaah haji Iran untuk berhaji sambil menyampaikan pandangan politik mereka terhadap pemerintah Arab Saudi. Para jemaah Iran menyebut demonstrasi ini dengan nama “Menjaga Jarak dengan Para Musryikin.”

Pada tahun 1982, situasi kedua negara sempat tenang. Khomeini memerintahkan rakyatnya menjaga ketertiban dan perdamaian, tidak menyebarkan pamflet-pamflet propaganda, dan untuk tidak mengkritik pemerintahan Arab Saudi.

Sebagai balasannya, kerajaan Arab Saudi membebaskan jemaah haji Iran untuk kembali berhaji. Sebelumnya, Saudi membatasi jumlah jemaah haji asal Iran untuk menghindari konflik.

Ketegangan kembali terjadi pada Jumat, 31 Juli 1987. Para jemaah haji Iran melakukan pawai protes menentang para musuh Islam, yaitu Israel dan Amerika Serikat, di kota Mekkah. Ketika sampai di depan Masjidil Haram, mereka diblokir oleh aparat keamanan Arab Saudi, namun mereka tetap memaksa masuk.
Bentrokan berdarah kemudian terjadi yang mengakibatkan situasi kacau dengan beberapa orang terinjak-injak oleh massa yang panik.

Ada beberapa versi pemicu kematian ratusan orang pada insiden ini. Pemerintah Iran mengatakan, aparat keamanan Saudi melepaskan tembakan ke arah demonstran damai, sementara Arab Saudi mengatakan bahwa korban tewas akibat terjepit dan terinjak jemaah yang panik. Akibat hal ini, hubungan kedua negara kembali renggang dan pemerintah Arab Saudi kembali menerapkan pembatasan jemaah haji Iran.

Mahdi Palsu
Peristiwa berdarah lainnya terjadi pada 20 November 1979. Kala itu ratusan orang bersenjata menguasai Masjidil Haram dan menyandera puluhan ribu jemaah haji di dalamnya.

Penyanderaan dipimpin oleh Juhaimin Ibnu Muhammad Ibnu Saif al-Otaibi yang mengatakan saudara iparnya, Muhammad bin Abd Allah Al-Qahtani, adalah Imam Mahdi atau sang penyelamat Akhir Zamann.

Dilaporkan sebanyak 400-500 militan Otaibi, termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak, mengeluarkan senjata yang mereka sembunyikan di balik baju dan merantai gerbang Masjidil Haram. Mereka memerintahkan para jemaah untuk tunduk kepada Mahdi palsu, Al-Qahtani. Penyanderaan berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya para militan diberantas oleh pasukan bersenjata gabungan antara Arab Saudi dengan beberapa negara.

Pasukan Arab Saudi sempat dipukul mundur karena hebatnya persenjataan para militan. Seluruh warga Mekkah dievakuasi ke beberapa daerah.

Pasukan kerajaan siap melakukan gempuran mematikan. Namun, mereka harus meminta izin dari ulama besar Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, yang telah  melarang segala jenis kekerasan di Masjidil Haram. Akhirnya dia mengeluarkan fatwa penyerangan mematikan untuk mengambil alih Ka’bah.

Dilaporkan 255 jemaat haji dan militan Otaibi tewas dalam penyerangan tersebut, sebanyak 560 orang terluka. Dari sisi tentara Arab Saudi, sebanyak 127 tewas dan 451 terluka.

Berbagai cerita berbeda mengisahkan saat-saat penyerangan oleh tentara gabungan Arab Saudi, Pakistan dan Perancis.

Salah satu laporan mengatakan tentara membanjiri Masjidil Haram dengan air dan mengalirinya dengan listrik, menyetrum para militan. Laporan lainnya mengatakan para tentara menggunakan gas beracun. Pasukan Perancis dipanggil karena pasukan Arab Saudi tidak berdaya.

Tentara Perancis ini dikabarkan menjadi Muslim dahulu sebelum masuk Masjidil Haram. Langkah ini mereka lakukan lantaran Masjidil Haram hanya boleh dimasuki oleh umat Muslim. Allahu a’lam. (berbagai sumber/al-ikhwan17)
Read more...

Daru An Nadwah,Saksi Besar Rencana Jahat Terhadap Rasulullah

0 komentar



Di sekitar Ka'bah, ada beberapa rumah yang mengandung nilai sejarah tinggi dalam masa perjalanan Islam. Rumah-rumah tersebut berkaitan dengan perjuangan Rasulullah SAW, baik yang digunakan untuk berdakwah maupun yang digunakan untuk membuat rencana busuk mencelakakan beliau.

Salah satu rumah di sekitar Ka'bah ada yang dijadikan tempat bagi para kafir Quraisy untuk menyusun rencana jahat pada Nabi Muhammad SAW. Rumah tersebut diberi nama Daru An-Nadwah.

Secara etimologi, Daru An-Nadwah berarti rumah tempat berkumpul atau bermusyawarah. Daru An-nadwah adalah sebuah majelis tempat bertemunya para pembesar kafir Quraisy di Kota Makkah, tepatnya berada di dekat Masjidil Haram. Rumah ini adalah tempat untuk memusyawarahkan sesuatu urusan bangsa Quraisy. Lembaga ini dibangun oleh Qusay bin Kilab.

Di tempat ini, lahir keputusan-keputusan yang dilegitimasi bersama, misalnya keputusan perihal pengangkatan pemimpin Quraisy, peperangan, keputusan haji, perdagangan hingga perjalanan bisnis.

Ketika Islam lahir di Makkah, lembaga inilah yang menjadi sentral keluarnya keputusan yang menentang, menghadap, dan menghalangi dakwah Nabi Muhammad SAW. Suatu ketika, mereka menyebut Hari Zahmah, dimana banyak sekali orang hadir yang memenuhi ruang di Daru An-Nadwah. Mereka bersepakat merencanakan hal terburuk bagi Nabi Muhammad SAW.
Diantara mereka ada yang mengusulkan agar Muhammad SAW dipenjarakan di jeruji besi kuat dan pintunya dikunci rapat-rapat. Ada yang mengusulkan agar Muhammad SAW diusur dari Makkah, bahkan ada yang menginginkan supaya Muhammad SAW dibunuh secara bersama-sama.

Ketika kafir Quraisy bersepakat melakukan hal itu, Paman Nabi Muhammad SAW Abu Thalib langsung cepat-cepat memberitahukannya kepada beliau. Namun Abu Thalib terhenyak karena Muhammad SAW sudah terlebih dahulu mengetahuinya. Tak lama kemudian, atas perintah dari Allah SWT, Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah SAW segera keluar dan pergi sementara meninggalkan Makkah. Sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib menggantikan posisi beliau di tempat tidurnya.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau mengunjungi Daru An-Nadwah dan mengubah rumah tersebut menjadi tempat berwudhu bagi para jamaah haji. Pada zaman khalifah Dinasti Abbasiyah, tepatnya di masa pemerintahan Al-Mu'tadid, rumah tersbut dimasukkan ke dalam bagian Masjidil Haram. Untuk mengingat letak rumah tersebut, maka dibuatlah sebuah pintu masuk masjid dengan nama Bab Daru An-Nadwah.(republika.co.id)
Read more...

Kaum Quraisy Dan Yahudi Bertanya Tentang Riwayat Dzulqarnain.

0 komentar



Kisah tersebut menjadi refleksi betapa Dzulqarnain adalah seorang Mukmin yang bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Sifat-sifat tersebut membuatnya mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sebab, sosoknya adalah sahabat bagi para budiman dan pembuat kebajikan, namun musuh bagi para perusak dan budak kejahatan.

Kebesaran Dzulqarnain tersebut juga telah dikenal sebagian kalangan sebelum Alquran diturunkan ke bumi. Oleh karena itu, kaum Quraisy atau Yahudi pernah menanyakan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. 

Sebagaimana Allah SWT telah berfirman, "Mereka menanyakan kepadamu tentang Dzulqarnain." (QS al-Kahfi [18]: 83). Kendati sifat-sifatnya diuraikan, namun Alquran memang tidak menyebutkan atau menjelaskan secara terperinci perihal siapa sebenarnya Dzulqarnain atau ke mana saja dia menjelajah.

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, kisah Dzulqarnain melukiskan tentang contoh seorang raja saleh yang diberi kekuasaan di bumi, meliputi belahan timur dan barat, oleh Allah SWT. Segenap manusia dan penguasa negara tunduk pada kekuasaannya. Kendati demikian, Dzulqarnain tetap istikamah sebagai seorang yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.

Hal ini tergambar ketika dia membangun benteng untuk kaum dhaif yang ketakutan kepada bangsa Ya'juj dan Ma'juj. "Dzulqarnain berkata, ini (benteng) adalah suatu rahmat dari Tuhanku. Maka, apabila sudah tiba janji Tuhanku, Dia pun akan menjadikannya rata dengan bumi (hancur lebur). Dan janji Tuhanku itu adalah benar." (QS al-Kahfi: 98)

Yusuf Qardhawi menilai, terdapat tujuan tersendiri mengapa Allah SWT meriwayatkan kisah Dzulqarnain dalam Alquran. Salah satunya adalah sebagai contoh dan pelajaran kepada seluruh manusia di bumi. Yakni agar mereka tidak congkak dan angkuh ketika memiliki kekuasaan yang besar di tangannya.

Terlebih lagi, dengan kekusaannya tersebut, ia menyepelekan dan mendustakan Allah SWT. Kisah seperti Dzulqarnain telah difirmankan oleh Allah SWT, "Sesungguhnya kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS Yusuf: 111).(republika.co.id)
Read more...

Berita Terbaru

 

Copyright © Monitor Jurnal